adakah ia akan kembali




Senja yang jatuh di pelupuk matamu, kekasih

adalah sebait lagu melankolis yang mengalun pilu

pada barisan waktu,

dan seketika luruh

lalu menjelma laksana pusara beku

dari helai-helai rindu

yang terserak hambar sepanjang jalan


“Kesendirian yang menyesakkan,” gumammu gusar.

Dan setangkup asa yang telah kau simpan diam-diam dalam hati

seperti berpendar lembut, juga sia-sia,

menerangi gelap malam serta kelam matamu.


“Pada akhirnya, saat semuanya usai,

cahaya di ujung lorong akan meredup perlahan,

lalu lenyap bersama harap”, katamu getir


Dan sebuah cinta yang menjauh akan membuatmu

tersentak sedar

pada luka kehilangan dan impian yang terkandas

di batas cakrawala,

dan hening tak bertepi


Fajar yang merebak dari bening matamu, kekasihku

adalah serupa kerlip kunang-kunang,

yang mengisi ruang hampa di sanubari

namun mengguratkan pedih menikam pada sisinya


Dan saat geliat asmara menguap deras ke langit

menyisakan jejak-jejak sunyi

pada redup lampu merkuri,

langkahmu gamang menyusuri

perjalanan menuju tiada

sembari bertanya dengan lidah kelu

apakah luka yang tersayat ini,

kelak dapat menjelma menjadi permata?


0 lying to myself: